
Oleh: Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag
Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad saw. melintasi ruang dan waktu, melainkan sebuah narasi tauhid yang sangat mendalam tentang hubungan hamba dengan Tuhannya. Isra Mi’raj adalah manifestasi spiritual tertinggi yang meneguhkan keesaan Allah sekaligus mematangkan kesadaran keimanan Nabi dan umatnya. Dalam perspektif tauhid, peristiwa ini dapat dipahami melalui tiga tahapan kesadaran ilahiah yang tercermin dalam rumusan kalimat tauhid: La ilaha illa Huwa, La ilaha illa Anta, dan La ilaha illa Ana.
Tahapan pertama, La ilaha illa Huwa (tiada Tuhan selain Dia), merepresentasikan kesadaran tauhid pada level nasut, yakni realitas kemanusiaan dan alam dunia. Pada tahap ini, Allah dikenali sebagai “Dia”, Tuhan yang diyakini melalui iman, dalil, dan pengakuan rasional. Inilah dimensi Isra’ perjalanan horizontal Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang menegaskan bahwa tauhid berakar kuat dalam realitas sosial dan sejarah manusia. Keimanan tidak berhenti pada keyakinan personal, tetapi hadir dalam ruang peradaban dan kehidupan nyata.
Tahapan kedua, La ilaha illa Anta (tiada Tuhan selain Engkau), menggambarkan peningkatan relasi spiritual menuju alam malakut. Pada fase Mi’raj ini, tauhid tidak lagi bersifat pengakuan objektif semata, tetapi berubah menjadi dialog batin yang intim antara hamba dan Tuhannya. Perjumpaan Nabi dengan para malaikat di lapisan langit menunjukkan bahwa iman sejati membawa manusia pada kesadaran transenden, di mana Allah tidak hanya diyakini, tetapi “dihadapi” dengan penuh ketundukan dan cinta. Tauhid pada tahap ini adalah tauhid kesaksian iman yang hidup dan berinteraksi.
Puncak perjalanan spiritual tersebut tercermin dalam tahapan La ilaha illa Ana (tiada Tuhan selain Aku), yang merepresentasikan kesadaran tauhid tertinggi di alam lahut, pada maqam Sidratul Muntaha atau Qaba Qausain. Di titik ini, tidak ada lagi jarak antara kehendak hamba dan kehendak Tuhan. Bukan berarti penyatuan zat, melainkan keselarasan total dalam ketaatan dan kepasrahan. Inilah puncak kesadaran tauhid Nabi Muhammad Saw. sebagai hamba pilihan yang sepenuhnya tenggelam dalam keesaan Allah.
Menariknya, puncak Isra Mi’raj tidak diakhiri dengan doktrin teologis yang abstrak, melainkan dengan perintah shalat. Shalat menjadi “mi’raj” bagi umat mukmin, sarana spiritual yang memungkinkan setiap Muslim menapaki jejak perjalanan tauhid Nabi sesuai kapasitasnya. Melalui shalat, umat Islam diajak bergerak dari pengakuan iman (Huwa), menuju dialog spiritual (Anta), hingga mencapai kepasrahan total kepada Allah (Ana).
Dengan demikian, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa historis yang diperingati secara ritual, tetapi momentum reflektif untuk meneguhkan tauhid dalam seluruh dimensi kehidupan. Ia mengajarkan bahwa keimanan sejati adalah perjalanan berkelanjutan, dari kesadaran rasional menuju kedekatan spiritual, dan akhirnya bermuara pada ketundukan total kepada Allah SWT. Di sanalah Isra Mi’raj menemukan maknanya yang paling hakiki bagi Nabi Muhammad saw. dan bagi umatnya sepanjang zaman.
