(Pesisir Barat – Humas FDIK UIN RIL) – Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Raden Intan Lampung mulai diterjunkan untuk melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terintegrasi di wilayah sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Pesisir Barat, pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya mendukung kegiatan konservasi gajah sekaligus pemberdayaan masyarakat yang dilakukan bersama Repong Indonesia.
Penempatan mahasiswa PMI di Repong Indonesia dilakukan oleh panitia PKL dan KKN Terintegrasi dengan mempertimbangkan kesesuaian lokasi dengan kompetensi keilmuan mahasiswa PMI yang berfokus pada bidang pemberdayaan masyarakat. Penempatan tersebut juga merupakan hasil arahan Kepala Program Studi PMI, M. Bisri Mustofa, M.Kom.I, yang berupaya mencarikan lokasi PKL dan KKN yang relevan dengan bidang keilmuan mahasiswa.
Repong Indonesia dipilih karena memiliki kegiatan yang berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat sekaligus bergerak dalam bidang konservasi lingkungan. Melalui penempatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi nyata di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PMI dilibatkan dalam proyek Repong Indonesia bertajuk “Upaya Penyelamatan Gajah dan Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Pesisir Barat.” Proyek ini dimulai pada Agustus 2026 dengan durasi pelaksanaan selama 16 bulan. Sementara itu, mahasiswa PMI diberikan waktu selama satu bulan untuk melaksanakan kegiatan PKL dan KKN dengan mengikuti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Repong Indonesia.
Keterlibatan mahasiswa dalam proyek konservasi tersebut menjadi pengalaman penting, mengingat Lampung merupakan salah satu wilayah yang menghadapi konflik antara manusia dan satwa liar, termasuk gajah dan harimau. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai konservasi satwa, tetapi juga memahami bagaimana pendekatan pemberdayaan masyarakat dapat diterapkan dalam menghadapi persoalan yang terjadi di sekitar kawasan konservasi.
Koordinator Proyek Repong Indonesia, Iwan Kurniawan, menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN dan PKL dari UIN Raden Intan Lampung. Menurutnya, keberadaan mahasiswa dapat menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan konservasi gajah dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TNBBS.
Selama berada di lokasi, mahasiswa PMI mendapatkan posko yang berada di sekitar kawasan hutan. Penempatan tersebut memungkinkan mahasiswa untuk bersentuhan langsung dengan berbagai kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Repong Indonesia. Kondisi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenali karakteristik wilayah, masyarakat, serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di sekitar kawasan TNBBS.
Program yang dijalankan Repong Indonesia merupakan bagian dari Program TFCA Sumatera Siklus Hibah XI dengan fokus mendorong upaya penyelamatan gajah dan masyarakat sekitar kawasan TNBBS di Pesisir Barat. Program ini dilatarbelakangi masih terjadinya konflik antara kelompok gajah liar Citra dan Bunga dengan masyarakat di sekitar Resor Pemerihan dan Resor Way Haru. Konflik tersebut turut menyebabkan masyarakat mengalami kerugian akibat gagal panen karena kehadiran gajah di area perkebunan.
Melalui program tersebut, Repong Indonesia menargetkan terwujudnya ruang hidup yang aman dan berkelanjutan bagi kelompok gajah liar Citra dan Bunga, lima gajah jinak yang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG), serta masyarakat sekitar kawasan TNBBS di Kabupaten Pesisir Barat. Program juga diarahkan untuk mengembangkan PKG sebagai pusat informasi dan edukasi gajah serta ekowisata berbasis gajah yang berkelanjutan.
Sejumlah kegiatan konservasi telah dirancang dalam program tersebut, di antaranya pemasangan dua unit GPS Collar untuk memantau pergerakan kelompok gajah liar Citra dan Bunga. Pemantauan tersebut ditujukan sebagai sistem deteksi dini untuk membantu mencegah terjadinya konflik antara gajah liar dan masyarakat. Selain itu, dilakukan pula pengayaan pakan gajah seluas empat hektare di Pusat Konservasi Gajah yang terdiri atas tiga hektare tanaman pakan utama dan satu hektare tanaman pakan nutrisi.
Tidak hanya berfokus pada konservasi satwa, program ini juga memberikan perhatian terhadap penguatan masyarakat dalam menghadapi konflik manusia dan satwa liar. Repong Indonesia merencanakan penguatan fungsi dan kapasitas enam Satgas Pekon di sekitar Resor Way Haru dan Resor Pemerihan. Satgas tersebut akan didukung dalam upaya mitigasi konflik melalui pengamanan di titik rawan, termasuk penghalauan, blokade, dan penggiringan gajah liar.
Wakil Dekan I FDIK UIN Raden Intan Lampung, Dr. Khairullah, MA., turut menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan PKL dan KKN di tengah masyarakat merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Sri Wahyuni, M.Sos. berharap kegiatan PKL dan KKN Terintegrasi ke depan dapat memiliki lebih banyak pilihan lokasi yang strategis dan sesuai dengan kompetensi mahasiswa. Sebelum melaksanakan kegiatan, mahasiswa juga diharapkan memiliki kesiapan yang baik serta memahami karakteristik lokasi penempatan dan kondisi masyarakat setempat.
Selain kesiapan, mahasiswa dituntut mampu menyusun program kerja yang kreatif dan inovatif dengan terlebih dahulu memahami kondisi serta permasalahan yang ada di lapangan. Pemahaman terhadap kondisi masyarakat menjadi penting agar program yang dirancang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Dengan demikian, kegiatan PKL dan KKN Terintegrasi diharapkan tidak hanya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kehadiran mahasiswa PMI di Repong Indonesia juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam mendukung pelestarian lingkungan serta menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara masyarakat dan satwa liar di sekitar kawasan TNBBS. (TA)